Terminologi Hati Dalam Pandangan Islam

Segala puji bagi Allah Yang Maha Sempurna dalam segala sifat dan

perbuatan-Nya, Yang Maha Adil dalam segala hukum-Nya, Yang Maha

Bijaksana dalam segala keputusan-Nya.



Sholawat dan salam buat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diutus untuk sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam.


Berikutnya terima kasih banyak kami ucapkan kepada panitia seminar,

yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk sebagai pembicara

dalam kesempatan ini. Semoga Allah memberikan taufiq dan ‘inayah kepada

kami dalam menyampaikan makalah kami pada kesempatan ini.


Dalam kesempatan yang berbahagia ini kami kami diberi kepercayaan

oleh panitia untuk berbicara tentang: “Terminologi Hati Ditinjau Dari

Sudut Pandang Islam”.


Makalah ini kami bagi kepada beberapa pokok bahsan:



  1. Muqaddimah.

  2. Kosep hati menurut Islam.

  3. Makna dan pengertian hati.

  4. Ciri dan sifat hati yang baik.

  5. Bentuk dan jenis penyakit hati.

  6. Tips dan trik mengobati hati yang sakit.

  7. Tindakan proventif dalam menjaga hati.

  8. Konsep Aqidah Terkait  hati:

  9. Penutup dan kesimpulan.





    Konsep Hati Menurut Islam


    Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk.



    لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ [التين/4]



    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.


    Namun perlu kita ketahui bahwa kerupawanan seseorang akan membawa

    kepada kehinaan bila tidak disertai oleh keindahan hati yang dihiasi

    oleh iman dan amal sholeh.


    Sebagaimana lanjutan dari firman Allah di atas:



    ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ

    آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

    [التين/5، 6]



    “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang sehina-hinanya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.


    Dari sini dapat kita pahami bahwa pokok kemulian bukanlah pada rupa,

    serta tidak pula pada harta dan jabatan. Akan tetapi Allah memandang

    kepada hati dan amalan seseorang.


    Sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:



    «إِنَّ اللّه تَعَالَى لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ

    وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

    رواه مسلم.



    “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta kalian, dan akan tetapi Ia memandang kepada hati dan amalan kalian”.


    Namun penentu baik dan buruknya amalan seseorang amat bergantung

    kepada hati. Maka hati adalah bagaikan generator bagi seluruh anggota

    badan. Kedudukan hati di antara anggota badan bagaikan raja di tengah

    kerajaan. Semua gerak-gerik anggota badan akan bergantung kepada hati

    sebagaimana gerak-gerik anggota pasukan bergantung kepada raja. Bila

    raja bersifat baik maka prajuritnya pun akan baik pula, sebaliknya bila

    raja memiliki prilaku buruk maka bala tentaranya pun akan berprilaku

    buruk pula.


    Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan kepada kita tentang hal tersebut dalam sabdanya:



    «أَلا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ

    الجَسدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ

    الْقَلْبُ» رواه البخاري ومسلم.



    “Ketahuilah! Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging,

    apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak. Maka

    rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah! ia adalah hati”.


    Hati adalah ciptaan Allah yang luar biasa, dimana hati menyimpan

    berjuta-juta rahasia yang tidak mungkin untuk diketahui manusia kecuali

    segelitir saja dari rahasia-rahasia tersebut. Ini menunjukkan betapa

    luasnya ilmu dan kekuasaan Allah. Maka oleh sebab itu menyuruh kita agar

    merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah pada diri kita.


    Sebagaimana Allah perintahkan dalam Al Qur’an:



    وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ [الذاريات/20، 21]



    “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”


    Semoga melalui apa yang kita bahas pada kesempatan kali ini dapat

    sebagai mediator untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada

    Allah. Disaat kita mencoba mengenal sekelumit dari keluarbiasaan

    kekuasaan Allah dalam diri kita. 


    Makna Dan Pengertian Hati


    Kata-kata hati dalam bahasa arab dinamai dengan beberapa nama, diantaranya: Al Qalbu, Al Fuadu, dan Ash Shadru.


    Dinamakan dengan Al Qalbu dengan dua sebab;


    Pertama: karena ia menunjukkan pusat (jantung) sesuatu, sebagaimana

    kota makkah disebut Qalbul Ardhi (pusat bumi) karena letaknya di

    tengah-tengah bumi. Sebagaimana hati dalam tubuh manusia adalah pusat

    kembali segala aktifitas tubuh.


    Kedua: karena sifatnya berbolak-balik.
    Sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:



    «لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ القِدْرِ

    إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْياً» رواه أحمد (6/4)، وصححه الألباني فِي “الصحيحة”

    (1772).



    “Sungguh hati anak Adam lebih cepat berbolak-balik dari periuk yang sedang sangat mendidih”.


    Dan dinamakan Al Fuadu, karena bermacam-macamnya pikiran, keyakinan dan perasaan yang tersimpam dalamnya.


    Sebagaimana Allah sebutkan dalam Al Qur’an:



    إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]



    “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya“.


    Maka hati akan ditanya tentang apa yang ia pikirkan dan apa yang diyakininya.


    Dan dinamakan Ash Shadru (dada). Sebagaimana Allah sebutkan dalam firma-Nya:



    {يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غافر/19]



    “Dia mengetahui mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.


    Karena tempat hati terletak dalam dada, sebagaimana firman Allah:



    فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ [الحج/46]



    “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.


    Perbedaan antara hati dan otak


    Otak dalam bahasa arab disebut dengan Ad Dimaahg dan Al Mukh.


    Menurut sebagian ahli kesehatan bahwa akal tempatnya di otak, akan

    tetapi menurut para ulama Islam akal tempatnya di hati. Dianatara para

    ulama tersebut seperti Al Qurtubi[1], Al baghawi dalam kitab tafsirnya[2], Ibnu Taimiyah dalam kitab majmu’ fatawa[3] dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya[4].
    Mereka para ulama tersebut berpegang kepada firman Allah:



    {أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِى الارْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ} (الحج : 46)



    “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memikirkan”.


    Dan firman Allah:



    {لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا} (الأعراف : 179)



    “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak mereka pergunakan untuk memikirkan (ayat-ayat Allah)“.


    Syeikh Islam ibnu Taimiyah dan murid beliau Ibnul Qoyyim menjelaskan

    hubungan antara dua unsur yang terpenting diatas, yaitu hubungan anatara

    hati dan otak.


    Berkata syeikh Islam Ibnu Taimiyah: Sumber pikiran dan pandangan

    berasal dari otak sedangan sumber emosional (Irodah) adalah berasal dari

    hati.


    Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “At Tibyaan fi Aqsaamil Qur’an“: Mani bila telah berumur enam hari apabila ia membeku timbul di tengah-tengahnya suatu titik maka itulah tempat jantung.

    Kemudian muncul satu titik pula diatasnya maka itu adalah otak. Lalu

    muncul pula satu titik di arah kanannya maka itulah hati (al kabid). Kemudian titik tersebut semakin berkembang”. 


    Perbedaan antara hati dan jantung 


    Sering dalam bahasa sehari-hari kita memahami bahwa hati adalah bagian tubuh yang disebut dalam bahasa arabnya Al Kibdah.

    Pada hal dalam Al Qur’an dan sunnah serta penjelasan para ulama yang

    disebut hati adalah yang disebut jantung dalam bahasa kita sehari-hari.

    Maka oleh sebab itu penyakit serangan jantung dalam bahasa Arab disebut saktatul Qalb.




    [*]: Makalah ini pernah disampaikan Disampaikan Dalam Seminar Nasional Tgl: 13 Juni 2010 di Widyloka Universitas Brawijaya Malang.
    [1]  Al Jaami’ Liahkaamil Qur’an: 2/36.
    [2]  Ma’aalimut Tanziil: 7/152.
    [3]  : 9/303.
    [4]  Tasir Al Qur’anul ‘Azhiim: 4/508.


    Ciri Dan Sifat Hati Yang Baik


    Hati yang tersentuh dan terkesan dengan ayat-ayat Allah.
    Sebagaimana Allah gambarkan tentang hati orang-orang yang beriman ketika mendengar ayat-ayat Allah:



    {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ

    وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ

    إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ}[الأنفال/2]



    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah

    hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman

    mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”



    Hal ini terbukti dalam kehidupan para sahabat ketika mendengarkan nasehat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu:



    ((صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -r- ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ

    أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا

    الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ)) رواه أبو داود والترمذي وابن

    ماجه.



    “Pada suatu Rasulullah shalat mengimami kami, setelah itu beliau

    menghadap kearah kami, lalu beliau menyampaikan nasehat yang sangat

    dalam. membuat air mata menetes dan membuat hati bergetar (tersentuh).”


    Hadits ini menunjukkan tentang betapa baiknya hati para sahabat, sehingga amat mudah terkesan dengan nasehat yang mereka dengar.


    1. Hati yang lembut, santun dan penuh kasih.
    Sebagaimana Allah gambarkan tentang kelembutan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya:



    {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ

    عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ

    رَحِيمٌ} [التوبة/128]



    “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri,

    berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan

    keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap

    orang-orang mukmin.”


    2. Hati yang sabar.
    Sabar terbagi kepada tiga macam:


    Pertama: sabar dalam menjalankan perintah-perintah dalam agama. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:



    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا

    فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ

    الصَّابِرِينَ [الأنفال/46]



    “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu

    berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang

    kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang

    sabar.”


    Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan untuk bersabar setelah

    perintah untuk berbuat taat kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Ini

    menunjukkan bahwa dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya

    amat butuh pada kesabaran.


    Kedua: sabar dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang diharamkan dalam agama. Untuk hal ini Allah sebutkan dalam firman-Nya:


    Ketiga: sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian (musibah) dari Allah. Seperti Allah sebutkan dalam firman-Nya:



    وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ

    مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156)

    أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ

    هُمُ الْمُهْتَدُونَ [البقرة/155-157]



    “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

    (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:

    “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat

    keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah

    orang-orang yang mendapat petunjuk.”


    3. Hati yang teguh dan kokoh dalam memegang kebenaran.
    Sebagaimana Allah gambarkan kepada kita tentang kisah pemuda ashabul

    kafi bahwa mereka pemuda-pemuda yang teguh pendiriannya dalam memegang

    kebenaran.



    إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

    (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا

    رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا

    لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا [الكهف/13، 14]



    “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri.”


    Demikian pula firman Allah:



    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ

    وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ

    وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

    [الحجرات/15]



    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang

    yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak

    ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka

    pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”


    Di zaman kita ini betapa banyaknya orang yang ragu-ragu dan plin-plan

    serta bimbang dalam meyakini dan memperjuangkan kebenaran. Hal itu

    disebabkan tidak adanya kemantapan hati dalam meyakini sebuah kebenaran.


    4. Hati yang pemaaf.
    Banyak sekali ayat-ayat maupun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan sifat pemaaf dan mencela sifat balas dendam.


    Sebagaimana Allah menggambarkarkan tentang sifat orang-orang yang bertaqwa dalam firman-Nya:



    وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

    عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133)

    الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ

    الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    [آل عمران/133، 134]



    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada

    surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk

    orang-orang yang bertakwa,
    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan

    (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang

    menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai

    orang-orang yang berbuat kebajikan.”


    Dan juga firman Allah:



    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ [الأعراف/199]



    “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”


    Dalam kenyataan hidup kita sehari-hari pada saat ini amat jarang kita temukan orang suka pemaaf terhadap sesama.


    Bentuk Dan Jenis Penyakit Hati


    Bentuk penyakit hati secara umum ada dua macam:



    • Pertama: Asy Syubuhaat (berhubungan dengan keyakinan) yaitu

      menyenangi segala bentuk keyakinan yang kufur dan sesat, seperti syirik,

      nifaq dan bid’ah dan seterusnya.

    • Kedua: Asy Syahawaat (berhubungan dengan akhlak) yaitu

      menyenangi berbagai macam bentuk maksiat. Diantaranya ada yang

      berhubungan dengan kepuasan sex, seperti zina, onani, lesbian, homosex

      dan sterusnya. Dan diantaranya ada pula yang behubungan tingkah laku,

      seperti sombong, hasad, dengki, congkak dan seterusnya.



    Berbagai jenis penyakit hati lahir dari dua bentuk penyakit diatas, diantaranya:


    1. Al Gahflu (Lalai).
    Allah mencela hati yang lalai dari merenungkan, memikirkan dan

    memahami ayat-ayat Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an:



    وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ

    وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا

    يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ

    كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

    [الأعراف/179]



    “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam)

    kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak

    dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai

    mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan

    Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya

    untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak,

    bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”


    Dan firman Allah:



    مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا

    اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (2) لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ [الأنبياء/2،

    3]



    “Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru

    (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang

    mereka bermain-main,
    (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.”


    2. Keluh kesah, gundah dan perasaan cemas yang berlebihan.
    Kondisi ini timbul pada saat seseorang takut atas kehilangan sesuatu

    yang telah diperolehnya, atau takut tidak memperoleh apa yang

    diharapkannya.


    Oleh sebab itu Allah melarang rasul-Nya untuk tidak bersedih dan terhadap tipu daya orang-orang kafir kuraisy. Sebagaimana Allah berfirman:



    وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ

    عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ (127) إِنَّ اللَّهَ

    مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ [النحل/127، 128]


    “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu

    melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati

    terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap

    apa yang mereka tipu dayakan
    . Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”


    Demikian pula perkataan para malaikat kepada nabi Luth, tatkala kaumnya akan dihacurkan Allah. Sebagaimana firman Allah:



    وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ

    بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ إِنَّا مُنَجُّوكَ

    وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ [العنكبوت/33]



    “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada

    Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak

    punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: “Janganlah

    kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan

    kamu dan pengikut-pengikutmu. kecuali isterimu, dia adalah termasuk

    orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).”


    3. Putus asa dan kekecewaan yang berlebihan.
    Kondisi ini timbul ketika seseorang ditimpa musibah seperti

    kehilangan sesuatu yang amat dicintainya, atau gagal memperolehnya,

    bisa  berupa harta ataupun jiwa. Banyak kita sakaikan dalam kehidupan

    kita sehari-hari orang yang mengambil jalan pintas dengan cara bunuh

    diri atas kesusahan dan kesulitan yang menimpanya.


    Pada hal Allah mengharamkan untuk berputus asa dari rahmat-Nya, sebagaimana firman Allah:



    لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ  [فصلت/49]



    “Tidak pantas Manusia itu jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.”


    Dan firman Allah:



    وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ [يوسف/87]



    “Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”


    4. Buta terhadap kebenaran.
    Allah mencela orang yang buta hatinya dari melihat bukti-bukti

    kebenaran dan tanda-tanda kebesaran Allah, sebagaimana firman Allah:



    أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ

    يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى

    الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

    [الحج/46]



    “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka

    mempunyai hati yang dapat memaham (kebenaran)i, atau mempunyai telinga

    yang dapat mendengar (kebenaran)? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu

    yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

     
    5. Keras membatu tidak mampu ditembus oleh nasehat-nasehat agama.

    Hati yang secara fisik terlihat lentur dan lunak namun pada

    hakikatnya bisa lebih keras dari batu saat diberi nasehat. Bahkan batu

    bisa lebih lunak dari sebagian hati manusia. Sebagaimana Allah ceritakan

    tentang hati orang-orang Bani Israil dalam surat Al baqarah:



    ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ

    كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا

    يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ

    فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ

    اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُون [البقرة/74]



    “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu,

    bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang

    mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang

    terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh

    ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah

    sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”


    6. Penyakit Nifak (kemunafikkan).
    Kemunafikkan adalah memperlihatkan iman secara lahir dan

    menyembunyikan kekufuran secara batin. Kemunafikkan adalah salah bentuk

    kekufuran dan ia adalah penyakit hati yang sangat berbahaya dan sangat

    keji oleh sebab itu pelakunya lebih berat mendapatkan azab dari orang

    kafir yang terang-terangan.


    Sebagaimana Allah gambarkan tentang hati orang-orang munafiq dalam ayat berikut ini:



    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ

    وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ

    اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا

    يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

    وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [البقرة/8-10]



    “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada

    Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan

    orang-orang yang beriman.
    Mereka hendak menipu Allah dan

    orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri

    sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah

    Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka

    berdusta.”


    7. Ar Ru’bu (Cemas dan takut).
    Penyakit ini Allah masukkan ke dalam hati orang-orang  kafir dan musyrik. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Naya:



    سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا

    أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ

    النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ [آل عمران/151]



    “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut,

    disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah

    sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka

    ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang

    zalim.”


    8. Terkunci dari menerima kebenaran.
    Ini adalah sifat hati orang kafir yang sudah tidak mau menerima peringatan dan seruan untuk beriman kepada Allah dan hari akhir. Sebagaimana Allah sebutkan pada awal surat Al Baqarah:



    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ

    أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (6) خَتَمَ

    اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ

    غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ [البقرة/6، 7]



    “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri

    peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan

    beriman.
    Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”


    9. Suka mengikuti sesuatu yang samar-samar.
    Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:



    فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ

    مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

    وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

    يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا [آل عمران/7]



    “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,

    maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang samar-samar,  untuk

    menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya.”


    Demikian pula disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:



    « إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ

    وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

    فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ

    وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ

    الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى

    أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ

    مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ

    الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ .” رواه البخاري ومسلم.



    “Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang harampun sudah

    jelas. Dan diantar keduanya ada perkara yang sama-samar, kebanyakan

    manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjauhi sesuatu yang

    samar-samar berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barangsipa

    yang melakukan sesuatu yang sama-samar maka ia telah jatuh kepada yang

    haram. Bagaikan sipenggembala yang mengegembala di batas pagar, boleh

    jadi ia akan masuk kedalamnya. Sesungguhnya setiap raja memiliki batas,

    sesungguhnya batasan Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah

    sesungguhnya dalam jiwa seseorang terdapat segumpal daging. Apabila ia

    baik maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila rusak maka rusaklah

    seluruh jasadnya. Ketahuilah! Ia adalah hati.” 


    10. Beroyalitas kepada orang kafir.
    Salah satu jenis penyakit hati yang sangat dicela dan berbahaya

    adalah beroyalitas kepeada orang kafir. Seperti membela keyakinan mereka

    dengan alasan torelasi dan menyalahkan orang yang menentang keyakinan

    mereka. Penyakit ini mulai terjangkit dengannya sebagian intelektual

    zaman ini. Hal ini sangat diharamkan atas seorang muslim sebagaimana

    terdapat dalam firman Allah berikut ini:



    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ

    وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ

    يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي

    الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

    يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ

    [المائدة/51، 52]



    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil

    orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi penolong-penolong(mu); sebahagian

    mereka adalah penolong bahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu

    yang mengambil mereka menjadi penolong, maka sesungguhnya orang itu

    termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk

    kepada orang-orang yang zalim.
    Maka kamu akan melihat

    orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik)

    bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami

    takut akan mendapat bencana.”


    11. Ragu dan bimbang terhadap kebenaran.
    Diera kemajuan informasi ini banyak sekali hal-hal yang dapat

    meragukan dan membimbangkan seseorang terhadap kebenaran. Bahkan tidak

    bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang batil

    denga yang hak, antar kafir dan iman, antara tauhid dan syirik, antaraq

    sunnah dan bid’ah. Seperti keraguan tentang kekalan kehidupan akhirat

    dan kejadian hari kiamat. Kebimbangan terhadap kebenaran adalah salah

    satu penyakit hati yang di sebutkan Allah dalam firman-Nya berikut.



    إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

    وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ

    يَتَرَدَّدُونَ [التوبة/45]



    “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah

    orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati

    mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.”
     


    Dan firman Allah:



    أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ

    أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ

    الظَّالِمُونَ (50) إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا

    إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا

    وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [النور/50-51]



    “Apakah dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka

    ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku

    zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.


    Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada

    Allah dan rasul-Nyauntuk memberi keputusan di antara mereka,ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”


    12. Mudah terfitnah oleh rayuan setan.
    Hati yang sakit dan tidak diimunisasi dengan ilmu dan amal sholeh

    akan sangat mudah terpengaruh oleh rayuan setan. Sebagaiamana terdapat

    dalam firman Allah berikut ini:



    لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ [الحج/53]



    “Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai

    ujian bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang

    kasar hatinya.”


    Demikian pula dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:



    « تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا

    عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

    وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى

    تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ

    فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ

    مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ

    مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ .” رواه مسلم.



    “Fitnah-fitnah akan merajut hati seperti rajutan tikar, sedikit

    demi sedikit. Setiap hati yang terpengaruh dengannya akan terdapat

    dalamnya bintik hitam. Dan setiap hati yang menolaknya akan terdapat

    dalamnya bintik putih. Sehingga dari kedua hati tersebut salah satu dari

    keduanya menjadi putih bagaikan batu putih jernih. Maka fitnah tidak

    mampu mempengaruhinya selama berdirinya langit dan bumi. Dan hati yang

    lain menjadi hitam lebam. Bagai mangkok yang terlungkup, tidak kenal

    yang ma’ruf dan tidak pula yang mungkar, kecuali yang sesuai dengan hawa

    nafsunya.”


    Tips Dan Trik Mengobati Hati Yang Sakit


    1. Segera bertaubat dan banyak beristighfar.
    Sesungguhnya dosa sangat mempengaruhi hati

    seseorang, setiap berbuat dosa akan tetancap bintik hitam pada hati

    seseorang tersebut. Ibarat besi yang semakin hari dililit karat, bila

    sudah terlalu tebal maka untuk menghilangkannya akan sangat sulit dan

    butuh pada waktu yang cukup lama. Diterjen yang paling manjur untuk

    membersihhkan karat hati adalah taubat dan istighfar.


    Amat banyak sekali ayat-ayat maupun hadits-hadits yang memerintahkan

    agar kita senantiasa bertobat dan memohon ampunnan dari Allah. Seperti perintah nabi Huud ‘alaihis salam  kepada kaumnya yang terdapat dalam fiman Allah:



    وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

    يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى

    قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ [هود/52]



    “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu

    lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat

    deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan

    janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”


    Demikian pula perintah nabi Syu’aib ‘alaihis salam kepada kaumnya dalam firman Allah:



    وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ [هود/90]



    “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.”


    2. Banyak bertawakal.
    Agar hati kita tenang ketika berihtiar dan berusaha, hendaklah kita

    bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Barangsiapa yang bertawakal kepada

    Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:



    وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ

    اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

    [الطلاق/3]



    “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan

    mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang

    (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi

    tiap-tiap sesuatu.”


    3. Biasakan bersikap sabar.
    Dalam menjalani hidup sehari-hari pasti kita akan mengalami kondisi

    yang saling berbeda. Tidak ada seorangpun yang tidak mengalami cobaan

    dan ujian. Karena Allah telah menjadikan kehidupan ini untuk melihat

    siapa yang lulus dari ujian.


    Sebagaimana Allah berfirman:



    أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا

    وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

    فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

    [العنكبوت/2، 3]



    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)

    mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan

    sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka

    sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya

    Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”


    Dan firman Allah:



    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ

    وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ

    الصَّابِرِينَ [البقرة/155]


    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit

    ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan

    berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”


    4. Sering membaca dan mendengarkan Al Qur’an.
    Al Qur’an adalah kitab suci yang oenuh berkah disamping sebagai

    petunjuk, rahmat dan pelajaran. Ia juga sebagai obat dan penawar bagi

    berbagai penyakit hati, sebagaimana Allah sebutkan dalam firmannya:



    يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ

    رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ

    لِلْمُؤْمِنِينَ [يونس/57]



    “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari

    Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada

    dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”


    Dan firman Allah:



    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ

    لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا [الإسراء/82]



    “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan

    rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah

    kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”


    5. Mempelajari ilmu agama terutama ilmu Akidah.
    Mempelajari ilmu akidah berdasarkan dalil-dalil syar’i akan

    menyembuhkan hati kita dari berbagai bentuk penyakit syubuhat

    (Kesesatan) dalam hati. Seperti penyakit ragu, nifaq, syirik, bid’ah dan

    lain-lain.



    Oleh sebab itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

    selama tiga belas tahun di Makkah menyeru kepada tauhid dan memperbaiki

    aqidah orang kafir Quraisy. Demikian pula ayat-ayat yang turun di Makkah

    jika kita perhatikan hanya berbicara tentang tauhid dan Aqidah.

    Demikian tugas seluruh para rasul dan nabi mengajak manusia untuk

    mengetahui tentang pentingnya tauhid dan betapa berbahayanya syirik.

    Jika kiata membaca surat yang pertama turun adalah perintah untuk

    membaca dan menulis karena keduanya adalah sarana untuk mendapat ilmu.


    Sebagaiman terdapat dalam firman Allah:



    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ

    الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي

    عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

    [العلق/1-5]



    “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia

    telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah

    Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia

    mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”


    6. Membiasakan berinfak
    Membiasakan berinfak adalah cara membersihkan hati dari penyakit

    kikir dan tamak. Oleh sebab itu, banyak sekali ayat dan hadits-hadits

    yang memerintahkan kita untuk selalu berinfak. Sebagaimana Allah berfirman:



    إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ

    الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا

    الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)

    وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ

    وَالْمَحْرُومِ [المعارج/19-25]



    “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

    Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat

    kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,

    yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam

    hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan

    orang yang tidak mempunyai apa-apa.”


    7. Berteman dengan orang-orang yang sholeh dan taat beribadah serta berakhlak mulia.
    Berteman denga orang yang sholeh akan banyak memberikan terapi bagi

    kita. Karena ia akan mengingatkan jika kita lupa dan akan menasehati

    jika kita tersalah.


    Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:



    «مَثَلُ الْجَلِيسِ

    الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَىْءٌ

    أَصَابَكَ مِنْ رِيحِهِ وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ

    الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ .”

    رواه أبو داود



    “Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek

    seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual

    minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi

    engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma

    yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan

    membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak

    sedap.”
    (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


    Tindakan proventif dalam menjaga hati


    1. Banyak berzikir.
    Zikir memiliki dua makna:



    • Pertama: Zikir mutlak (umum), dimana mata, telinga, mulut, tangan,

      kaki beserta seluruh anggota badan kita berzikir kepada Allah. Kita

      meresa selalu diawasi, dilihat, didengar dan diperhatikan oleh Allah.

      Kita mengendalikan diri kita dari berbagai kemaksiatan dan dosa meskipun

      kita sendirian dan tidak ada seorangpun disamping kita dan mengetahui

      gerak-gerik kita.

    • Kedua: Zikir muqaiyyat (berbentuk tertentu) dari segi waktu dan

      tempat. Contohnya do’a mau tidur dan bangun tidur, do’a masuk wc dan 

      keluar wc, do’a setelah berwuduk, setelah mendengar azan dan seterusnya.


    Untuk menjaga hati kita tetap tenteram, nyaman dan tenang adalah

    dengan banyak berzikir kepada Allah sebagaimana Allah sebutkan dalam

    kalamnya:



    الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [الرعد/28]



    “Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan

    mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati

    menjadi tenteram.”


    Demkian pula dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:



    ((ماجلس قوم مجلسا يذكرون الله فيه إلا حفتهم الملائكة

    وتغشتهم الرحمة وتنزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده)) رواه ابن

    ماجه وصححه الشيخ الألباني.



    Tidaklah suatu kaum duduk mengimngat Allah dalam satu majlis.

    Kecualai malaikat menaungi mereka, rahmat Allah meliputi mereka dan

    diturunkan kepada mereka ketenangan. Serta Allah menyebut mereka di

    hadapan makhluk yang di sisi-Nya. 


    2. Selalu merenungkan ayat-ayat Allah.
    Ayat-ayat Allah ada dua macam:



    • Pertama: Ayat Kauniyah, yaitu tanda-tanda keagungan dan

      kebesaran Allah yang terdapat pada alam raya ini. Seperti matahari,

      bulan, bintang, bumi dan langit serta apa yang terdapat di anatar

      keduanya dan pada keduanya.

    • Kedua: Ayat Syar’iyah, yaitu ayat-ayat suci yang diturunkan

      Allah kepada para nabi dan rasul sebagai pedoman hidup bagi umat

      manusia. Sesungguhnya dalam ayat-ayat yang diturnkan Allah terdapat

      berbagai macam perintah dan larangan yang menyimpan berjuta-juta rahasia

      hikmah. Demikian pula hukum-hukumnya membawa keadilan yang luar biasa,

      seandainya bersatu seluruh pakar hukum di dunia untuk menandingi satu

      saja dari hukum Islam niscaya mereka tidak akan mampu menandinginya.


    Banyak sekali ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk

    merenungkan dan memikirkan tentang ayat-ayat Allah baik ayat syar’iyah

    maupun ayat kauniyah. Diantaranya firman Allah:



    إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ

    لِلْمُؤْمِنِينَ (3) وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آَيَاتٌ

    لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (4) وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا

    أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ

    بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آَيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (5)

    تِلْكَ آَيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ

    بَعْدَ اللَّهِ وَآَيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ [الجاثية/3-6]



    “Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat

    tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada

    penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran

    (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang

    meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan

    Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah

    matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan

    Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami

    membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah

    lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan

    keterangan-keterangan-Nya.”


    3. Senantiasa mengingat kehidupan akhirat.
    Sangat banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang

    kehidupan akhirat. Ada ayat yang bercerita tentang kehidupan ahli surga,

    membuat hati kita begitu rindu untuk melihatnya. Dan ada pula ayat yang

    bercerita tentang penderitaan dan siksaan ahli neraka membuat hati kita

    menjadi tertunduk dan takut kepada Allah. Berbagai peritiwa yang akan

    dilalui manusia di alam akhirat seperti:



    1. Kehidupan alam kubur.

    2. Peristiwa ketika di Padang Mahsyar.

    3. Peristiwa ketika diserahkannya catatan amal kita.

    4. Peristiwa ditimbangnnya amalan kita.

    5. Peristiwa ketika melewati Shiratul mustaqim.


    Oleh sebab itu kita dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berziarah kubur agar kita ingat kepada akhirat.



    ((زوروا القبور، فإنها تذكركم الآخرة)) رواه النسائي وابن ماجه وقال الشيخ الألباني : صحيح.



    “Ziarahilah oleh kalian perkuburan, karena sesungguhnya dia akan mengingatkan kalian kepada hari akhirat.”


    4. Biasakan membaca sejarah kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
    Diantara hal yang dapat membuat hati kita tetap tegar dan kokoh serta

    istiqamah dalam memegang kebenaran adalah dengan membaca sejarah

    kehidupan para nabi dan rasul serta para sahabat. Kita akan melihat

    bagaimana mereka tidak pernah goyah keyakinan mereka dengan sebesar

    apapun tantangan yang mereka hadapai. Oleh sebab itu, Allah menyebutkan

    dalam kitab suci-Nya kisah-kisah para nabi dan umat yang terdahulu agar

    kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah kehidupan mereka. Seperti

    kisah nabi nuh yang 950 tahun. Betapa sabarnya beliau dalam menghadapi

    tantangan kaumnya.



    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ

    أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ

    ظَالِمُونَ [العنكبوت/14]



    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia

    tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka

    mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”


    Bahkan kisah-kisah tersebut Allah jadikan sebagai cara untuk meneguhkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah:



    وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ [هود/120]



    “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.”


    Dan Allah menjadikan kisah-kisah tersebut sebagai pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah:



    لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

    مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ

    وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

    [يوسف/111]



    “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran

    bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang

    dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan

    menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum

    yang beriman.”


    5. Doa.


    Konsep Akidah Terkait Hati


    Konsep akidah yang terkait dengan hati sangat banyak sekali namun

    dalam kesempatan yang terbatas ini kami sebutkan yang terpenting saja,

    dintaranya:


    1. Ar Rajaa’ (Harapan).
    Ar Roja’ adalah ketulusan hati kita dalam berharap kepada Allah. Kita

    hanya menggantung seluruh harapan kita kepada Allah semata. Karena

    ditangan Allah-lah segala kebaikan. Barangsiapa yang megantungkan

    harapan kepada selain Allah maka ia telah terjerumus kedalam penghambaan

    dan peribadatan kepada selain Allah.


    Berikut ini kita sebutkan tentang dalil yang mewajibkan bahwa segala harapan kita hanya kita gantungkan kepada Allah.



    فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا [الكهف/110]



    “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah

    ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan

    seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”


    2. Al Khauf (rasa takut).
    Kita tidak boleh takut kecuali kepada Allah semata, karena hanya

    Allah yang mampu mendatangkan mudharat dan ditangan-Nya segala urusan

    makhluk. Sebagaimana perintah Allah:



    إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [آل عمران/175]



    “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang

    menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik

    Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah

    kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”


    Dan firman Allah:



    فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ [المائدة/44]



    “Maka janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.”


    3. Al Mahabbah (Kecintaan).
    Kecintaan yang murni hanya ditujukan kepada Allah, kita tidak boleh

    menserikat Allah dalam cinta ubudiyah kita. Seperti disebutkan Allah

    dalam firman-Nya:



    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ

    أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ

    حُبًّا لِلَّهِ [البقرة/165]



    “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah

    tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka

    mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya

    kepada Allah.”


    4. Ikhlas.
    Ikhlas adalah menyerahkan segenap ibadah kita kepada Allah semata.

    Tanpa mengharap pujian dan sanjungan siapapun. Hati adalah tempat

    menetukan niat ketika seseorang melakukan aktifitas ubudiyah kepada

    Allah. Sebagaimana Allah perintahkan dalam firman-Nya:



    قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي

    لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ

    وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ [الأنعام/162، 163]



    “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan

    matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya;

    dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang

    yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”


    5. Khusu’.
    Khusu’ adalah tingkat keyakinan saat beribadah kepada Allah, maka

    semua perhatian hatinya tertuju pada Allah. Khusu’ adalah bagian dari

    perkerjaan hati yang hanya boleh kita persembahkan kepada Allah semata. Allah berfirman:



    إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ [الأنبياء/90]



    “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera

    dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa

    kepada Kami dengan harap dan cemas[970]. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”


    Kesimpulan Dan Penutup


    Sebagai kesimpulan dari penjelasan di atas sbb:



    1. Betapa agungnya ciptaan Allah pada makhluknya.

    2. Betapa pentingnya kita mejaga dan merawat serta menghiasi hati kita dengan iman, ilmu dan amal.

    3. Wajibnya kita besyukur atas segala nikmatnya terutama nikmat hati.


    Demikian yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan ini semoga Allah

    memberikan kepada kita hati yang baik dan taat kepada Allah. Akhirnya

    kami mohon maaf atas segala kekurangan dan kekeliruan.



    وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين




     سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لآ إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك




    Sumber: www.Dzikra.com


    Source link


    قالب وردپرس